Selasa, 11 Mei 2010






Y A K U S A ...
HmI cab. Bolaang Mongondow tepatnya pada tanggal 16 Mei 2010 Menggelar acara pelantikan BADKO Wilayah SULAWESI UTARA - GORONTALO...
terima kasih yang tiada terhingga kami sampaikan kepada ketua panitia " Windiarto Entebone" Beserta jajarannya yang telah Berupaya Mensukseskan Acara Ini...



Mengetahui
Ketua Panitia


Windiarto.E

Minggu, 22 November 2009


Biarlah YM Berbicara ^_+

AKU cuma mampu tunduk,
menyembunyikan wajah seboleh
mungkin. Memang salah aku.
Takkan nak menjawab pula. Dia bos... aku ni?
“Awak ni kenapa? Ada masalah ke?”
Laju aku menggeleng sambil mempamerkan
sedikit senyum yang tidak begitu manis. Apa lagi yang aku
mampu lakukan? Cuma senyum itulah buat menutup
kecuaian sendiri.
“This is not the first time, you know? Hari ni dah
tiga kali awak buat silap. Itu dengan saya, dengan orang lain,
tak tahulah! Cuba terus terang dengan saya, apa masalah
awak sebenarnya?”
“Saya yang tak buat betul-betul. Memang salah
saya. Maafkan saya Encik Firdaus. Lepas ni saya akan lebih
hati-hati…”
Encik Firdaus menatapku dengan renungannya
yang mengancam. Membuat aku hampir terduduk, di kerusi
di hadapannya. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini aku pasti
akan rupa senyumanku. Senyuman gabra. Siapa yang tahan
direnung jejaka sekacak Encik Firdaus?
“Saya keluar dulu ya, encik. Saya ambil file debtor
yang encik minta tu.” Aku bersuara lemah. Hairan dengan
kecuaian sendiri. Kenapa perkara sebegini remeh pun, aku
boleh silap?
Encik Fidaus diam. Dia memandangku dengan
pandangan tidak mengerti. Perlahan aku menggaru kepala
yang tidak gatal. Cuba buang jauh-jauh perasan yang mula
bertenggek di ranting jiwa. Janganlah pandang saya macam
tu, encik. Perasan saya nanti! detik hatiku.
“Encik…” panggilku perlahan. Manalah tahu kalaukalau
Encik Firdaus sedang berangan. Tidak sedar sambil
berangan, matanya tertancap padaku. Aku tersenyum dalam
diam.
“Hmmm… tak payah dulu. I nak keluar lunch.
After lunch pass it to me. Okay!”
“Kalau macam tu, saya keluar dulu ya?”
Encik Firdaus mengangguk.
Aku pula berundur perlahan. Tidak sabar untuk
keluar dari bilik berhawa dingin yang tidak mendinginkan
langsung itu! Cuma wajahku yang terasa pijar bila bertentang
mata dengan bos yang tampan itu.
“Diya…”
Langkahku terhenti. Terasa mahu gugur jantung
tatkala mendengar Encik Firdaus memanggil namaku. Tidak
pernah dia memanggil singkatan namaku. Aku berpaling.
“Fail ni? This is not what I want. Isn’t? So, keep it
back.”
Aku tersengih malu sambil mengangguk laju. Cepat
aku mencapai fail yang dihulur oleh Encik Firdaus. Dan cepat
juga aku bergerak keluar dari bilik itu. Tidak sanggup untuk
melihat senyum lucu Encik Firdaus.
Fail di tangan kuletak seketika di atas meja. Kejap
lagilah aku simpan. Mataku tajam memandang skrin
komputer. Mencari-cari Window yang aku rindu. Tidak ada.
Aku mengeluh hampa. Mana dia pergi? Sudah hampir
seminggu dia menghilang. Tidak mahu menjawab semua
pesanan yang aku titipkan. Marahkah dia padaku? Marahkah
dia apabila terlalu sering aku menolak ajakannya untuk
bertemu? Terdetik rasa hiba di hati. Terasa aku kehilangan
sesuatu apabila tidak dapat membaca patah bicaranya di skrin
komputer.
“Hei, Diya! Apahal?”
Aku tersentak. Mengerling sekilas pada teman di
sebelah. Kemudian mataku terpaku kembali pada skrin
komputer.
“Bismillahirrahmanirrahim...” Perlahan aku klik
pada ikon Yahoo Messenger di sudut skrin komputerku.
Melihat kalau-kalau dia online saat ini. Ada! Dia ada, tapi…
kenapa pesanan dan sapaanku yang berbakul-bakul itu tidak
dibalasnya? Sampai hati…. Sebak rasanya dadaku saat ini.
“Diya…”
Aku berpaling. Mengangkat kening tanda bertanya.
Mulut terasa berat untuk kubuka.
Sharifah tersengih.
“Apa hal?” soalnya sekali lagi.
“Apahal apa?” Soalannya kujawab dengan soalan
juga. Tidak faham akan maksud pertanyaan teman sekerjaku
itu.

“Kenapa Encik Firdaus panggil kau?”
“Minta fail laaa.”
“Hari ni, dah empat kali dia panggil kau. Kenapa
ek? Semenjak dua menjak ni… selalu sangat aku tengok dia
panggil kau.”
Aku tersengih. Mana tak selalu… aku asyik buat
silap aja. Semuanya pasal mamat poyo yang tengah buat aku
sedih ni.
“Kenapa ek?” Sharifah bertanya lagi.
Aku tidak terus menjawab. Masih menatap skrin
komputer di hadapanku. Mengharapkan ada keajaiban yang
akan berlaku. Tak ada pun!
Aku sedikit terperanjat tatkala jemari Sharifah
menolak perlahan bahuku. Aku menoleh. Sharifah
mengharapkan jawapan daripadaku rupa-rupanya.
“Entah… dia minat kat aku kut!” balasku selamba.
Sebenarnya tiada mood untuk melayan celoteh Sharifah yang
memang tiada noktah itu.
“Ek hmmm…”
Suara itu membuatkan wajahku membahang. Aku
tunduk memandang meja. Malunya! Kenapalah dia muncul
pada saat-saat ini? Kenapalah mulut aku cabul sangat? Ish,
malunya aku!
Sharifah tersengih sambil mengetuk-ngetuk meja.
Sengih yang mencabar kewibawaanku.
“Siapa yang minat kat awak?”
Aku mendongak perlahan. Dalam terpaksa, aku
cuba untuk bertentang mata redup milik Encik Firdaus. Tak
guna punya mulut! Sanggup malukan tuannya sendiri. Lepas
ni… kena hantar pergi sekolah ni. Ajar hormat tuan sikit.

“Errr… Mat Bangla kat production encik. Dia selalu
kacau saya. Ha… betul tu… betulkan, Sherry,” ujarku
tergagap-gagap sambil memandang wajah Sharifah yang
mengulum senyum.
Sharifah mengangguk laju menyokong kata-kataku.
Sekali pandang, reaksi Sharifah nampak berlebih-lebih pula.
Encik Firdaus tersenyum manis. Aduh… dia tak
tahu ke, senyumannya tu boleh buat orang tergoda?
“Tak keluar lunch ke? Jomlah, saya belanja,”
pelawanya sambil tersengih.
“Errr... tak apalah! Dah kenyang encik…”
“Sharifah?”
“Encik belanja?”
“Yes. All on me. Jom la, ajak staf lain sama. And
you… Diya, jom la!”
“Saya betul-betul kenyang. Terima kasih.”
“Sure?”
“Yes!”
“Kalau macam tu, nak buat macam mana, ya tak?
Agaknya, tunggu Mat Bangla awak belanja ya?” gurau Encik
Firdaus.
“Eh, mana ada… tak adalah!” jawabku malu-malu.
Sejak bila pula Encik Firdaus pandai bergurau dengan staf ni?
Ish… musykil betullah! Agaknya hati tengah senang kut?
“Sharifah… shall we?”
Sharifah mengangguk sambil mengangkat
punggung.
Encik Firdaus bergerak ke ruangan penyambut
tetamu.

Sharifah pula berlari-lari kecil sambil tersengih
memandangku. Aku mengeluh perlahan sambil menongkat
dagu. Mataku kembali kaku memandang Yahoo ID yang
kurindu. Manalah dia pergi? Kenapalah dia buat aku macam
ni? Tidak tahukah dia betapa beratnya beban rindu yang
kutanggung saat ini? I miss you sayang!!! jerit hatiku tibatiba.
Sayang? Siapalah sayang tu? Hesy! Memang aku dilanda
perasaan tahap kronik ni. Kalau dibiarkan boleh melarat jadi
sakit jiwa ni. Tak nak!!!

Supported By: http://akmal89.wordpress.com <--- segera kunjungi dan ambil sebanyak-banyaknya novel yang anda mau ^_+

Kamis, 19 November 2009


Takbir Cinta Zahrana
(Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)

Matanya berkaca-kaca. Kalau tidak ada kekuatan iman
dalam dada ia mungkin telah memilih sirna dari dunia.
Ujian yang ia derita sangat berbeda dengan orangorang
seusianya. Banyak yang memandangnya sukses.
Hidup berkecukupan. Punya pekerjaan yang terhormat
dan bisa dibanggakan. Bagaimana tidak, ia mampu
meraih gelar master teknik dari sebuah institut
teknologi paling bergengsi di negeri ini. Dan kini ia
dipercaya duduk dalam jajaran pengajar tetap di
universitas swasta terkemuka di ibukota Propinsi Jawa
Tengah: Semarang.

Jika anda ingin NOVEL ini Selengkapnya, silahkan klik padatautan ini http://akmal89.wordpress.com

Selasa, 20 Oktober 2009














Manusia, secara eksistensial, selain memiliki kesadaran akan keberadaannya di tengah-tengah dunia, mereka juga menyadari keberadaannya bersama dengan dunia. Ini berarti bahwa manusia bukan merupakan makhluk yang hanya tinggal menjalani hidup ini tanpa kebebasan untuk memilih, melainkan, manusia menjadi makhluk yang sadar bahwa arah dan warna serta esensi keberadaannya bersama dunia ditentukan dengan pilihan-pilihan hidup yang dijalaninya.
Karena hal inilah, maka manusia dikenal sebagai makhluk budaya, karena segala tindakan dan aksi manusia dalam hidupnya merupakan sesuatu yang dilakukan atas dasar pilihan dan bukan sesuatu yang “given”.

Namun dalam kenyataannya, keberadaan manusia di dunia ini sebagai makhluk budaya, seringkali mengalami keterasingan eksistensial, hal ini karena kebebasan untuk membentuk dan menformat seperti apa hidup dan kehidupan yang diinginkan oleh seorang manusia tidak lagi menjadi pilihan bebasnya, melainkan di bentuk berdasarkan tekanan dari kekuatan-kekuatan “wacana” tertentu yang menguasai tidak secara represif, sehingga terkesan sebagai sesuau yang begitu alami dan lumrah.

Kondisi ini digambarkan oleh Jean Baudrillard, sebagai situasi hyper-reality. Hiperrealitas, menurutnya adalah bangunan model-model realitas yang tidak memiliki asal-usul. Kondisi hiperrealitas merupakan hasil kerja dari sebuah model produksi kebudayaan yang disebut Simulasi. Sementara itu simulasi itu sendiri merupakan sebuah upaya transformasi gambaran tentang dunia melalui bangunan-bangunan imajinasi. Proses simulasi menggiring manusia untuk merasa bahwa mereka memasuki sebuah ruang realitas yang dirasa nyata dan lebih baik padahal sesungguhnya ruang realitas itu hanyalah citra dan khayalan semu semata.

Bangunan wacana/ruang realitas yang ditawarkan melalui simulasi, akan menjadi referensi bagi masyarakat manusia dalam membangun realitasnya, sehingga pola hubungan antara ruang realitas semu yang menjadi referensi (the model) menjadi begitu cair dan lebur dengan realitas sesungguhnya (the real).

Secara sederhana, model simulasi ini dapat kita fahami secara lebih jelas dan terang melalui konsep representasi budaya. Konsep ini coba di teoritisasi oleh Stuart Hall, beliau menganggap bahwa representasi merupakan salah satu praktek penting yang memproduksi kebudayaan. Sebagaimana ditulis oleh Nuraini Juliastuti, representasi adalah konsep yang mempunyai beberapa pengertian, ia adalah proses sosial dari “representing”, Ia juga produk dari proses sosial “representing”, representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda, representasi juga bisa berarti proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentuk-bentuk yang kongkret.

Konsep representasi itu sendiri dapat dipetakan menjadi dua macam berdasarkan nilai kejujuran, reliabilitas dan ketepatan hubungan antara tanda dan citra dengan realitas yang diwakilinya, yaitu true representation (representasi) dan false representation atau simulation (simulasi). Dalam pemetaan ini dengan jelas terlihat bahwa simulasi merupakan representasi palsu.

Kalau dalam perspektif Jorge Luis Borges, representasi dianalogikan dengan peta yang merupakan representasi teritori, dimana proses representasinya menunjukkan bahwa teritori mendahului peta, maka untuk menjelaskan simulasi, Baudrillard juga menggunakan analogi peta, tetapi dalam proses representasi yang terbalik atau menempatkan peta mendahului teritori dalam artian bahwa peta terlebih dahulu ada sebelum teritori.

Sementara itu, istilah simulakra merupakan istilah untuk menunjukkan sebuah kondisi simulasi yang sudah demikian akut. Artinya bahwa sebuah tanda, ikon, simbol dan citra yang ditampakkan bukan saja tidak memiliki referensi dalam realitas, malah tanda, ikon, simbol dan citra yang dilahirkan dan dan dianggap sebagai representasi dari tanda, ikon, simbol dan tanda yang juga merupakan hasil dari simulasi. Peta mereferensikan dirinya pada peta itu sendiri, sebuah posisi self referential.

Nah, kalau kemudian penciptaan budaya manusia diserahkan kepada proses simulasi, bahkan sampai pada tahap atau etape simulakra, maka manusia akan bermain dalam sebuah dunia parody, dunia tanpa asal usul, dunia yang tidak lagi mementingkan orisinalitas dan keaslian. Dalam dunia ini manusia dibuat untuk meragukan reaitas yang “nyata”. Tanda, citra, ikon dan simbol yang diciptakan menjadi lebih nyata dari kenyataan yang sesungguhnya. Hal ini sejalan dengan apa yang di proklamirkan oleh Roland Barthes, the death of author.

Dengan gamblang, Yasraf Amir Piliang, melukiskan bekerjanya simulakra ini dalam sebuah proses sosial yang di sebutnya sebagai proses diseminasi sosial (social dissemination). Proses diseminasi sosial merupakan proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial, tanda, citra, informasi dan tanda-tanda komoditas yang berkembangbiak secara seketika (instanta neousness), mengikuti model pertumbuhan kode genetika (genetic code).

Dalam menanggapi kondisi simulakra ini, sebagian orang mengalami histeria. Histeria dan ketakutan yang muncul, terbangun karena kekhawatiran akan hilangnya hal-hal yang “nyata” dan terbalut oleh lapisan-lapisan citra yang tidak berujung pangkal, juga perasaan begitu rumitnya merumuskan jati diri dalam dunia yang seperti itu dan bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi bahwa roses simulasi ini dapat menjadi senjata utama dari proses hegemoni.

Namun disisi lain, sebagian orang menikmatinya dengan sadar dan dengan kegembiraan yang meluap-luap, hal ini karena mereka percaya bahwa dunia simulakra adalah dunia parody, dan ketakutan akan situasi hegemoni tidak perlu ada, hal ini karena pada dasarnya setiap manusia yang bermain dalam dunia simulakra adalah manusia yang memiliki kesadaran dan bebas dalam melakukan pilihan tanda, citra, ikon dan simbol, serta bebas melakukan interpretasi atas tanda, citra, ikon dan simbol yang dipilihnya.

Dunia simulakra menjadi sebuah mediasi, sebagaimana R. Kristiawan bahwa mediasi adalah dunia dimana segala macam simbol dari berbagai latar identitas budaya bisa saling bertemu Hasil interaksi antar simbol itu akan bersintesis dan menemukan bentuk ekspresi baru. Bentuk baru itu ada dalam spektrum yang amat luas dan tidak melulu hegemonik.

Tampaknya kearifan akan menjadi senjata utama dalam mengatasi semua ini, dimana kita dituntut untuk lebih mampu mengambil manfaat dari situasi apapun yang kita hadapi dibanding hanya mengeluh dan mengadu namun tidak mampu melakukan apa-apa. Selamat datang di dunia simulakra, sebuah dunia tanpa asal usul, namun juga merupakan dunia mediasi, dimana asal dan usul dipasarkan secara bebas dan merdeka serta lebih jernih dibanding hegemoni. Sopported By : "SIMULAKRA"
http://andreyuris.wordpress.com/2008/08/22/simulakra-dunia-tanpa-asal-usul/